Timredaksi.com, Kediri — Di tengah kehidupan yang serba cepat, Abdul Latif yang dikenal publik sebagai Guru Sabdo Roso mengenalkan kembali konsep Jawa Neng, Ning, Nung, Nang melalui ekosistem Nafas Batin. Empat istilah tersebut digunakannya sebagai gambaran proses batin: dari hening, menuju kejernihan, keteguhan dalam laku, hingga kemenangan atas diri sendiri.
Neng: Berhenti dari Kebisingan
Menurut Guru Sabdo Roso, Neng dimaknai sebagai hening atau berhenti sejenak dari kebisingan, baik yang datang dari luar maupun dari pikiran sendiri. Hening tidak dipahami sebagai menjauh dari kehidupan, tetapi memberi ruang agar seseorang dapat melihat keadaan dirinya sebelum bereaksi.
Ning: Kejernihan yang Lahir dari Hening
Dari Neng kemudian lahir Ning, yakni kejernihan. Pada tahap ini seseorang belajar membedakan apa yang benar-benar muncul dari pengamatan yang jernih dengan dorongan sesaat yang bercampur ketakutan, prasangka, keinginan, atau ego.
Nung: Kejernihan Menjadi Keteguhan dalam Laku
Kejernihan yang terus dilatih berkembang menjadi Nung. Guru Sabdo Roso memaknainya sebagai keteguhan dalam laku, sehingga seseorang tidak mudah berubah arah hanya karena tekanan keadaan, emosi, atau keinginan sesaat.
Nang: Menang atas Diri Sendiri
Sedangkan Nang dimaknai sebagai kemenangan batin atas diri sendiri. Kemenangan yang dimaksud bukan mengalahkan orang lain, tetapi semakin mampu mengelola amarah, ketakutan, keinginan berlebihan, dan ego yang dapat mengaburkan kejernihan.
“Nang bukan berarti menang terhadap orang lain. Yang lebih penting adalah mampu menang terhadap amarah, ketakutan, keinginan berlebihan, dan ego yang membuat kita kehilangan kejernihan.”
Dikembangkan melalui Nafas Batin
Konsep tersebut menjadi bagian dari materi yang dikembangkan melalui Nafas Batin, ekosistem pembelajaran yang dirintis dari Kediri. Nafas Batin memadukan olah napas, meditasi, olah rasa, piwulang Jawa, komunitas, pendampingan, pembelajaran digital, dan aplikasi.
Guru Sabdo Roso menempatkan teknologi sebagai sarana, bukan tujuan. Menurutnya, aplikasi dan materi digital dapat memudahkan akses terhadap pembelajaran, tetapi proses mengenali diri tetap membutuhkan latihan yang dijalani secara nyata.
“Teknologi hanyalah wadah. Pengetahuan bisa kita baca melalui layar, tetapi kejernihan tetap harus dilatih dari dalam diri dan dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.”
Melalui pendekatan tersebut, Abdul Latif berharap piwulang dan kearifan Jawa dapat tetap dipelajari oleh generasi sekarang tanpa kehilangan inti utamanya: hening, eling, kejernihan, keteguhan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.












