News

Relevansi Antara Korupsi dan Kurangnya Syukur

Relevansi Antara Korupsi dan Kurangnya Syukur

Oleh: Ketum DPN BMI Farkhan Evendi

Dalam menjalani keidupan sehari-hari, kita terkadang dituntut untuk bekerja mencari nafkah dan mencari rejeki. Ada kalanya seseorang mencari rejeki dengan cara halal, namun tak jarang juga mereka mencari dengan jalan yang melanggar hukum yaitu dengan cara haram.

Begitu juga, ada yang sangat mudah mendapatkannya dan ada juga yang merasakan sulit untuk memperolehnya. Ada orang yang sudah berusaha siang malam namun rejekinya masih sempit, dan ada juga orang-orangnya yang kerjanya seperti ringan tetapi hasilnya luar biasa. Akhirnya ada orang yang sering bertanya dalam dirinya, kenapa sudah berusaha maksimal tetapi rejekinya masih susah.

BACA JUGA:

Disini kita harus pahami secara mendasar bahwa pada hakekatnya rejeki itu datang dari Allah, maka untuk mendapatkannya tentu harus dengan ijin Allah. Oleh karenanya kita harus senantiasa berusaha agar langkah dan ucap kita senantiasa ada dalam ridlo-Nya. Tetapi bagaimana Allah akan ridlo, jika kita seringkali membuat dosa yang bisa mengundang kebencian Allah SWT. Untuk itulah kita harus senantiasa menepis segala tabir dosa yang bisa menjadi penghalang turunnya rejeki pada kita.

Namun ada juga, rejeki yang segharusnya dating dari Allah malah justru menjadi boomerang yang dapat menghancurkan semua karir dalam pekerjaanya, seperti melakukan tindak pidana korupsi, mencuri, dan lain sebagainya. Hakekatnya adalah jika mereka melakukan korupsi, padahal harta mereka sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maka itu adalah sebagian tanda-tanda kufur nikmat.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Lalu, bagaimana caranya supaya kita jauh dari kufur nikmat?, yaitu sebaiknya kita harus sering bersyukur, membaca istighfar dan kurangi perbuatan dosa, serta jangan sekali-kali menyimpan rasa iri dengan rejeki orang.

BACA JUGA: 

Singkat kata, untuk melapangkan rejeki kita harus selalu berusaha untuk menjauhi dosa. Masing-masing kita tentu lebih tahu kebiasaan dosa yang sering kita lakukan, bahkan saking seringnya sehingga kita mengagap biasa dalam berbuat dosa tersebut. Selanjutnya teruslah berusaha dengan sungguh-sungguh, serta tingkatkan ibadah untuk menggapai ridlo-Nya. Selebihnya tinggal sabar dan tawakal atas apapun hasilnya.

BACA JUGA:

(*)

Hamizan

Recent Posts

Gen Z Dominasi Pertumbuhan Nasabah Tabungan Emas Pegadaian

Timredaksi.com, Jakarta – PT Pegadaian mencatat fenomena menarik dalam peta investasi nasional sepanjang tahun 2025.…

5 days ago

Perspektif Islam: Pendekatan Holistik Hadapi Tantangan Zaman Modern

Perspektif Islam: Pendekatan Holistik Hadapi Tantangan Zaman Modern Oleh : Meirsa Sawitri Hayyusari Bandung –…

1 week ago

PLT. Ketua DPD BMI DKI Jakarta Siapkan Pengajian Akhir Tahun sebagai Penegasan Arah Baru

Timredaksi.com, Jakarta — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Bintang Muda Indonesia (DPD BMI) DKI Jakarta, Ghiffari…

2 weeks ago

Libur Natal dan Tahun Baru, Kemenag Siapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik

Timredaksi.com, Jakarta - Kementerian Agama menyiapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik di berbagai daerah untuk melayani…

3 weeks ago

Capt laut Suprihati : Ibu yang Tangguh momentum Hari Ibu 2025

Timredaksi.com, Jakarta - Momentum Hari Ibu tanggal 22 Desember 2025 menjadi momen spesial bagi Capt…

3 weeks ago

Bus PO Cahaya Trans Kecelakaan di Tol Krapyak, Uji KIR Diduga Kedaluwarsa Sejak 2020

Timredaksi.com, Jakarta – Bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV yang mengalami kecelakaan…

3 weeks ago