MEDAN – Dunia musik kembali kedatangan talenta muda berbakat asal Medan. Rezky Ginting, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) yang akrab disapa Kiki, tengah menapaki jalurnya sebagai musisi solo dengan mengusung genre pop alternative dan dream pop.
Di usia 21 tahun, pemuda kelahiran Medan ini memilih untuk mengekspresikan berbagai cerita personal melalui lirik-lirik yang berangkat dari pengalaman sehari-hari.
Langkah awal Kiki di industri musik ditandai lewat peluncuran single debutnya yang berjudul Till My Heart Gives Up.
Menariknya, karya perdana tersebut tidak hanya dinikmati oleh pendengar lokal, tetapi juga telah menjangkau penikmat musik hingga ke Amerika Serikat dan Inggris.
“Semoga Till My Heart Gives Up bisa makin luas jangkauannya dan relatable buat orang-orang yang lagi di fase serupa, sekaligus jadi pembuka jalan yang bagus buat single-single berikutnya,” ujar Kiki, Minggu (25/10/2026).
Selain aktif berkarya, Kiki juga sempat mengukir prestasi di luar bidang akademik dengan terpilih sebagai Duta Mahasiswa Universitas Sumatera Utara pada 2025.
Meski demikian, perjalanan bermusiknya tidak lepas dari berbagai tantangan. Ia harus pandai menyeimbangkan waktu antara menyelesaikan kewajiban perkuliahan dan menjalani proses kreatif.
Keterbatasan biaya produksi, pembuatan sampul, video musik, hingga proses distribusi dan promosi mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi musisi muda ini.
Beruntung, dukungan penuh dari keluarga memberikan Kiki keleluasaan untuk menekuni dunia musik, selama ia tetap bertanggung jawab terhadap pendidikannya.
Di sisi lain, ekosistem kreatif di Kota Medan turut membentuk karakter musikal Kiki. Kehadiran band-band lokal serta pengaruh genre emo dan pop-punk menjadi sumber inspirasi utama dalam meracik gaya penulisan liriknya.
Dengan memadukan berbagai pengalaman tersebut, ia terus berupaya membangun identitas yang kuat agar karyanya mampu bersaing di industri musik.
Ke depan, Kiki telah menyiapkan sejumlah rencana untuk merilis karya-karya terbaru sekaligus memperluas jangkauan pendengarnya.
Konsistensi ini menjadi bukti nyata bahwa aktivitas akademik dan proses kreatif di dunia seni dapat berjalan beriringan.












