Timredaksi.com, Jombang — Dukungan terhadap KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam Denanyar sebagai calon alternatif Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mengalir menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama.
Setelah melakukan silaturahmi dan membangun komunikasi dengan berbagai elemen NU di sejumlah daerah, Gus Salam membawa harapan akan hadirnya kepemimpinan yang mampu mengembalikan soliditas organisasi, memperkuat rekonsiliasi, serta menjaga marwah Nahdlatul Ulama.
Gus Salam sendiri menyatakan maju dengan membawa semangat **khidmah dan rekonsiliasi organisasi**. Kehadirannya dalam dinamika menuju Muktamar semakin menguat sebagai salah satu poros alternatif kepemimpinan PBNU yang menawarkan kepemimpinan bermoral, berakar kuat pada tradisi pesantren, serta mengutamakan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Di tengah dinamika kontestasi yang semakin menghangat, nama Gus Salam Denanyar semakin nyaring diperbincangkan sebagai alternatif kepemimpinan yang membawa harapan moral. Sosoknya dinilai menawarkan penguatan poros pesantren, rekonsiliasi antar-elemen, serta upaya mengembalikan NU kepada marwah, etika, dan tradisi keulamaan.
Gagasan mengenai kepemimpinan yang lebih beradab, menjauhi praktik politik uang, serta memperkuat supremasi ulama melalui tradisi musyawarah menjadi sejumlah nilai yang melekat dalam agenda yang dibawa Gus Salam.
Bagi sebagian warga Nahdliyin, munculnya figur alternatif menjadi harapan agar Muktamar tidak sekadar menjadi arena kontestasi kekuasaan, tetapi juga momentum untuk melakukan refleksi dan pembenahan organisasi.
Seorang Ketua PCNU yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kegelisahannya terhadap dinamika yang terjadi menjelang Muktamar. Ia berharap proses pemilihan kepemimpinan PBNU dapat berlangsung secara bermartabat dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai perjuangan para pendiri NU.
“Kami miris sekali melihat kondisi NU hari ini, di mana ada praktik-praktik yang kami nilai tidak bermoral dan intimidatif untuk menguasai PBNU. Jangan sampai perjuangan tulus para muassis yang telah mendirikan NU justru dikotori oleh kepentingan-kepentingan yang menjauh dari nilai organisasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan adanya kerinduan sebagian kalangan terhadap kepemimpinan yang dinilai lebih mengedepankan moral, keteladanan, musyawarah, dan persatuan.
Ketika isu nurani, etika, dan moralitas menjadi perhatian warga Nahdliyin dalam menentukan arah masa depan organisasi, Gus Salam Denanyar semakin menemukan gaungnya sebagai salah satu figur alternatif dalam arena Muktamar.
Dengan membawa agenda rekonsiliasi dan penguatan kembali tradisi keulamaan serta pesantren, Gus Salam diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai kekuatan di tubuh NU.
Kini, menjelang Muktamar, dinamika dukungan terhadap berbagai figur terus berkembang. Namun, bagi para pendukung Gus Salam, yang paling utama bukan sekadar siapa yang memenangkan kontestasi, melainkan bagaimana NU ke depan tetap berdiri tegak sebagai jam’iyah yang menjaga persatuan, marwah ulama, dan amanat perjuangan para muassis.










