Anakan Hiu Belimbing Jantan Pertama dari Proyek StAR dinamakan ‘Charlie’

0

Timredaksi.com – Raja Ampat, Proyek StAR (Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery) merupakan kolaborasi multipihak untuk memulihkan populasi hiu belimbing di area Indo-Pacific, khususnya di perairan Kepulauan Raja Ampat. Proyek ini secara resmi dimulai sekitar tiga tahun lalu oleh sebuah kelompok yang terdiri dari pemerintah, lembaga pengelola akuarium, LSM konservasi, lembaga pendidikan dari beberapa negara.

Di Indonesia, proyek ini diketuai oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS. Beliau mengatakan bahwa “Proyek ini merupakan sebuah pendekatan inovatif untuk mengembalikan hiu belimbing sebagai spesies penting di Raja Ampat yang merupakan jantung keanekaragaman hayati laut dunia. “

Prof. Charlie Heatubun menegaskan bahwa proyek ini menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Provinsi Papua Barat dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk menjaga kesehatan lingkungan dan perlindungan spesies, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Papua Barat lewat pariwisata berkelanjutan.

Setelah penetasan dua anakan hiu yang pertama, Program Manager dari (StAR) Project Indonesia, Nesha Ichida, menyampaikan kabar baik dari hatchery di Pulau Kri, Raja Ampat. Pada hari Minggu, 25 September 2022, anakan hiu belimbing jantan yang pertama menetas dari kantung telur dengan panjang 30 cm dan bobot 90 gram. Hiu tersebut diberi nama Charlie, sebagai bentuk apresiasi terhadap dukungan dan pimpinan Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si., FLS., selaku Ketua Kelompok Kerja (Pokja) StAR Project Indonesia.

Baca Juga  Guru Besar UPI Bandung Gaungkan Penguatan Pendidikan Karakter

Dalam sebulan terakhir, telur hiu belimbing yang telah dikirim dari SEA LIFE Sydney Aquarium ke Raja Ampat pada bulan Agustus lalu telah mulai menetas. Para akuaris lokal menerapkan ilmu

yang telah mereka dapatkan melalui pelatihan intensif dan merawat telur secara terus-menerus untuk memastikan telur dapat menetas dengan selamat.

Sementara itu Prof.Dr. Charlie D. Heatubun S.Hut, M.Si menanggapi pemberian nama tersebut, “Ini suatu terobosan inovasi yang menciptakan sejarah baru bagi upaya penyelamatan dan pelestarian spesies hewan laut di dunia, dan saya merasa beruntung bisa terlibat dan berkontribusi secara aktif dalam program Reintroduksi Ikan Hiu Belimbing ini, juga merasa terhormat dan tersanjung mendapat penghargaan dengan diberikannya nama saya untuk Hiu Jantan pertama hasil penetasan ini, semoga semuanya sehat dan berkembang sesuai harapan kita bersama.”

Secara keseluruhan, tiga dari tujuh telur yang dikirim oleh SEA LIFE Sydney Aquarium telah menetas dan berkembang dengan baik dan sehat. Dalam minggu pertama, Charlie si anakan hiu telah bertumbuh hingga panjang 32 cm dan berbobot 119 gram.

Baca Juga  Nama Gibran Masuk Bursa Cagub, PDIP DKI Bicara Kriteria Pengganti Anies

Dua anakan lainnya yang menetas pada tanggal 17 September lalu juga telah mengalami perubahan corak kulit dari corak anakan yang menyerupai zebra, menjadi corak dewasa yang menyerupai macan tutul. Perkembangan yang baik juga dapat ditunjukkan dari kemampuan para anakan tersebut dalam menyantap berbagai jenis makanan, mulai dari kerang, cumi-cumi, hingga kelumang.

Bulan pertama adalah masa yang sangat penting bagi tim akuaris karena tingkat kematian yang berpotensi sangat tinggi. Pada saat ini, beberapa anggota dari mitra akuarium StAR Project sedang berada di Pulau Kri untuk menyelenggarakan pelatihan tambahan bagi empat orang akuaris lokal, terkhusus mengenai perawatan anak hiu.

Harapan dari seluruh anggota Pokja StAR Project Indonesia dan inisiatif global ReShark, agar proses pemeliharaan terus berjalan dengan lancar, dan agar kesuksesan terus menyertai setiap langkah dari proyek tersebut pada bulan-bulan yang akan datang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here