Aktor Hollywood Saksikan Charlie dan Katleen Dilepasliarkan di Perairan Laguna Wayag Raja Ampat

0

Timredaksi.com – Menindaklanjuti komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat sebagai Provinsi Pembangunan Berkelanjutan berdasarkan Deklarasi Manokwari Tahun 2018 dan Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Barat No 10 Tahun 2019 serta implementasi Instruksi Presiden No 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) bekerja sama dengan StAR Project sedang melaksanakan program upaya pemulihan populasi (restocking) Hiu Belimbing (Stegostoma tigrinum) yang saat ini kondisinya terancam punah di perairan Raja Ampat.

Upaya restocking ini merupakan hal yang inovatif dan baru pertama kali dilakukan di dunia melalui Proyek StAR – Proyek Pemulihan Populasi Hiu Belimbing (Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery) di Perairan Raja Ampat yang dimulai sejak 3 (tiga) tahun terakhir, melibatkan 70 mitra dari 11 negara, mulai dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat Republik Indonesia, hingga organisasi konservasi baik nasional dan internasional, institusi akademik termasuk pengelola akuarium.

Uji coba tahap pertama telah berhasil menetaskan 3 (tiga) anakan hiu belimbing di Hatchery Pulau Kri, Raja Ampat yang saat ini berusia 4 (empat) bulan dengan panjang masing masing Hiu kurang lebih 70-90 cm dan 800 gram-1200 (1 Kg) dan telah siap untuk dilepasliarkan di perairan Laguna Wayag Kabupaten Raja Ampat. Dua ekor anakan Hiu Belimbing yang di lepas di Laguna Wayag bernama Charlie dengan berat bersih 800 gram dan panjang 73,2 cm dan Katleen memiliki berat 1127 gram dan panjang 81 cm, pemberian nama “Charlie” sebagai bentuk penghargaan kepada Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS sebagai Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan Project StAR di Provinsi Papua Barat dan Katleen yang merupakan salah satu pendukung proyek tersebut.

Dalam sambutannya, Penjabat Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn.) Drs Paulus Waterpauw, M.Si melalui Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDa) Provinsi Papua Barat, Prof. Heatubun menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang luar biasa kepada tim kerja Proyek StAR yang tentunya ini menjadi satu pencapaian dalam program restocking atau pemulihan populasi Hiu Belimbing, dengan harapan kedua anakan ikan hiu ini akan sehat dan berkembang, kemudian menjadi indukan yang akan memberikan populasi yang sehat bagi populasi Hiu Belimbing di masa mendatang.

Kepala BRIDA juga menegaskan bahwa hal ini sebagau pembuktian kerja tim yang berkolaborasi sangat erat dengan semua pihak, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat dan para mitra pembangunan terkait, khususnya anggota konsorsium internasional ReShark. Secara khusus apresiasi dan ucapan terima kasih pemerintah daerah kepada para akuaris atau perawat yang telah merawat anakan Hiu Belimbing sejak masih berada dalam kantung telur, menetas dan bertumbuh sampai berusia 4 (empat) bulan di tempat penetasan (hatchery), Pulau Kri, Raja Ampat.

Prof. Heatubun juga berharap bahwa proses ini akan terus berjalan sampai Hiu Belimbing ini mencapai populasi yang sehat di masa yang akan datang. “Ini menjadi satu contoh yang baik dan menjadi satu cerita sukses dalam upaya-upaya melestarikan jenis-jenis ikan endemik di perairan Pulau Papua dan merupakan bagian dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan pariwisata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua” ungkapnya.

Secara pribadi Prof. Heatubun merasa terhormat dan berterima kasih kepada tim kerja kolaborasi StAR Project yang menggunakan namanya sebagai nama ikan jantan pertama yang menetas hasil program restocking Hiu Belimbing. “Saya merasa terhormat dan termotivasi sekaligus bersemangat sehingga tetap akan terus bekerja untuk tujuan pembangunan berkelanjutan, untuk pelestarian sumberdaya alam dan juga kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya maupun secara khusus juga di Kabupaten Raja Ampat” tutup Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan UNIPA.

Baca Juga  Cowboy Bebop Live Action Season 2 Batal Tayang

Hadir juga dalam pelepasan 2 (dua) anakan hiu belimbing di Laguna Wayag; Perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang diwakili oleh Kepala Loka PSPL Sorong, Santoso Budiarto sebagai bentuk dukungan langsung dalam pelaksanaan konservasi Hiu dalam bentuk rencana aksi nasional pengelolaan Hiu di Indonesia. “Rencana aksi nasional memiliki beberapa aspek, salah satunya yaitu perlindungan, pelestarian dan tentunya kemitraan, hari ini Project StAR, BRIDA Provinsi Papua Barat, Yayasan Konservasi Indonesia dan BKKPN Kupang sudah menunjukan semangat konservasi yang luar biasa untuk melestarikan populasi Hiu Belimbing di Indonesia” tambah Budiarto.

Saat ini, Indonesia memiliki 2 Kabupaten yang menjaga wilayahnya dari penangkapan Hiu yaitu Kabupaten Raja Ampat, yang memiliki peraturan daerah (PERDA) penangkapan hiu dan Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Beliau berharap segera dibuatkan status perlindungan penuh terhadap hiu belimbing baik secara nasional maupun internasional. “Saya cukup terharu dengan antusias masyarakat adat Suku Maya (Kepulauan Raja Ampat) yang sangat luar biasa menjaga dan melindungi kawasan lautnya dan saya percaya hiu belimbing akan terus berkembang dan populasinya akan semakin meningkat di Kabupaten Raja Ampat” tutup kepala Loka PSPL Sorong ini.

Dalam kegiatan pelepasliaran Hiu Belimbing juga dihadiri Koordinator Satker Raja Ampat, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Ferdinan Irianto P. Bata, yang dalam sambutannya mewakili kepala BKKPN Kupang mengatakan “Laguna Wayag sudah terbukti bukan saja sebagai tempat perlindungan hiu, tetapi sudah terbukti secara ilmiah menjadi nursery terbesar dari pari manta, serta merupakan bagian dari Geopark Raja Ampat yang ditetapkan UNESCO sebagai keunikan geologi dan ekologi di dunia.” BKKPN Kupang berharap kolaborasi ini menjadi berkelanjutan dan melibatkan stakeholder khususnya masyarakat Suku Kawe (bagian dari Suku Maya) sebagai pemilik Kawasan Kepulauan Wayag.

Kawasan Laguna Wayag berada dalam wilayah Adat Suku Maya, dimana Ketua Dewan Adat Suku Besar Maya Kabupaten Raja Ampat, Chistian Thebu mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih yang setinggi tingginya kepada tim Reshark Hiu Belimbing dan pihak terkait yang telah bekerja keras dalam 3 (tiga) tahun terkahir ini untuk mengembalikan populasi Hiu Belimbing pada habitat aslinya. “Masyarakat adat dari Suku Maya kehidupannya tergantung pada sumberdaya alam mereka yaitu hampir 80% hasil laut dan 20% hasil berkebun di daratan.” Dalam acara pelepasliaran anakan Hiu belimbing ini dilakukan secara adat (Sasi) oleh masyarakat suku Kawe yang memiliki kawasan adat kepulauan Wayag.

“Terkait dengan Hiu Belimbing, Chris menambahkan Hiu ini adalah jenis ikan baru dalam habitat Hiu yang tidak mengancam kehidupan disekitarnya baik manusia maupun jenis ikan lain, dan harapan terbesar khususnya suku Kawe dengan kehadiran Hiu ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat adat dalam dunia pariwisata di Kawasan Laguna, Wayag. Harapan lainnya dalam Pengembangan Hiu Belimbing Ini bukan hanya di Kawasan Wayag saja tapi tersebar di seluruh kawasan Raja Ampat.

Baca Juga  Oknum Sekuriti RS Mengeroyok Seorang Pria Hingga Tewas, Ini Masalahnya

Dalam pertemuan terpisah, Iqbal Herwata yang merupakan angota tim ReShark Hiu Belimbing (StAR Project) menjelaskan pada Kawasan Laguna Wayag telah terpasang Tag Akustik (alat pendeteksi jangkauan) sebagai akustik telemateri untuk memantau kelangsungan hidup, tingkah laku, dan pergerakan dari anakan Hiu Belimbing yang dilepasliarkan di Laguna Wayag. “Sebuah tag akustik yang dipasangkan secara internal pada masing-masing anakan Hiu Belimbing akan mengirimkan sinyal akustik yang nantinya akan ditangkap sinyalnya oleh penerima sinyal akustik (acoustic receiver) yang telah terpasang di lokasi-lokasi strategis di laguna Wayag” jelas Herwata. Melalui pengamatan pasif ini, ketika anakan Hiu Belimbing melintas dan berada di radius jangkauan acoustic receiver maka kehadiran mereka akan terdeteksi oleh alat, sehingga kita akan mengetahui kemana saja pergerakan anakan Hiu Belimbing di Laguna Wayag dan menghabiskan waktu berapa lama.

Informasi ini akan sangat berharga bagi para ilmuwan dan pengelola salah satunya adalah untuk melihat penggunaan habitat inti oleh anakan Hiu yang kedepannya perlu mendapat perhatian dan perlindungan khusus. Sementara dengan pendekatan pemantauan aktif, survei dengan menggunakan kapal dan alat hidrofon yang berfungsi untuk mendeteksi dan merekam suara laut dari segala arah akan melacak keberadaan anakan hiu belimbing yang mengirimkan sinyal akustik di sekitar Laguna Wayag.

Turut Hadir juga David Doubilet, Jennifer Hayes dan Craig Welch yang merupakan Tim Photografi Bawah Laut (Underwater photography) National Geographic yang dalam beberapa kesempatan mengambil dokumentasi penting dalam acara pelepasliaran anakan Hiu Belimbing di Kawasan Laguna, Wayag Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Daya.

Pada kesempatan yang sama juga hadir aktor mega bintang Hollywood, Harrison Ford (Film Indiana Jones and the Last Crusade – 1989) yang sangat antusias menyaksikan pelepasliaran anakan Hiu Belimbing di Laguna Wayag dan mengapresiasi sangat tinggi kinerja tim Reshark Hiu Belimbing yang dimotori oleh Prof. Charlie D. Heatubun sebagai Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan StAR Project di Provinsi Papua Barat.

Pada pelepasliaran anakan Hiu Belimbing (Stegostoma tigrinum) tersebut, turut hadir juga beberapa tamu yang memiliki peranan penting dalam mendukung pelaksanaan proyek ini yaitu perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang diwakili oleh Kepala Loka PSPL Sorong, Santoso Budiarto; Perwakilan Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ferdinan Irianto P. Bata; Dr. Erin Leigh Meyer Beetham, Ketua Steering Committee konsorsium proyek StAR; Dr. Mark Erdmann, Vice President Marine Conservation International Asia Pasific; Max Ammer, Direktur Raja Ampat Research and Conservation Center; Konservasi Indonesia; David Doubilet, Jennifer Hayes dan Craig Welch National Geographic; ketua dewan Adat Suku Besar Maya Kabupaten Raja Ampat, Chistian Thebu ; Akuaris, StAR Project; Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan, BRIDA Papua Barat, Haerul Arifin (Wakil Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan StAR Project di Provinsi Papua Barat ), Kepala Sub Bidang SDA dan Lingkungan Hidup, BRIDA Papua Barat, Daniel Jemmy Oruw (Sekretaris Tim Koordinasi Pelaksanaan StAR Project di Provinsi Papua Barat) serta Masyarakat Suku Kawe Kepulauan Wayag Kabupaten Raja Ampat. (ri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here