Timredaksi.com, Muna — Kondisi persawahan di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, saat ini berada dalam situasi darurat akibat kekurangan air. Minimnya ketersediaan jaringan irigasi membuat sejumlah areal persawahan terancam mengalami gagal panen, bahkan berpotensi mengalami gagal panen total apabila tidak segera mendapatkan pasokan air yang memadai.
Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Muna, La Fedumu, S.TP., M.P., mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah keterbatasan infrastruktur irigasi, baik irigasi primer, sekunder maupun tersier. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh musim kering dan terbatasnya sumber air untuk mengairi sawah.
“Kondisinya sudah sangat darurat. Sawah-sawah petani seperti di Desa Labulu-Bulu, Desa Latampu, dan sekitarnya sangat kekurangan air dan terancam gagal panen. Mobil tangki air dari satgas kekeringan BWS bahkan sudah bergerak untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian, tetapi jumlahnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh persawahan,” ujarnya.
Menurutnya, Kabupaten Muna sebenarnya memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi padi dan bahkan mencapai swasembada beras daerah. Apabila didukung dengan sistem irigasi yang memadai dan ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), luasan tersebut sangat potensial menjadi basis swasembada beras Kabupaten Muna.
“Kita sebenarnya punya potensi besar. Kalau itu bisa dikelola secara optimal dengan dukungan irigasi dan alsintan yang memadai, Muna sangat mungkin memenuhi kebutuhan berasnya sendiri. Tetapi sekarang petani menghadapi persoalan air dan keterbatasan alat pertanian. Ini yang harus segera diselesaikan,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
La Fedumu menjelaskan, keterbatasan air juga berdampak terhadap pola budidaya petani. Sebagian petani terpaksa menanam padi tanpa melalui proses pengolahan lahan yang optimal. Kondisi tersebut, ditambah dengan kekeringan, yang pada akhirnya berdampak terhadap rendahnya produktivitas.
“Banyak petani menanam padi tanpa olah lahan secara optimal karena keterbatasan sarana dan kondisi air. Ketika terjadi kekeringan, produksi menjadi sangat minim,” jelasnya.
Menurut La Fedumu, pembangunan bendungan pada 2025 merupakan langkah positif dan perlu diapresiasi. Namun, keberadaan bendungan saja belum cukup apabila tidak diikuti dengan pembangunan dan penyelesaian jaringan irigasi dari hulu hingga ke tingkat lahan petani.
“Bendungan sudah dibangun pada 2025, tetapi air tidak akan otomatis sampai ke sawah petani kalau jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier belum tersedia atau belum berfungsi secara optimal. Karena itu, pembangunan bendungan harus diikuti dengan pembangunan jaringan irigasi sampai ke lahan persawahan,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah untuk menjadikan persoalan irigasi sebagai prioritas. Selain irigasi, ia juga mendorong penguatan dukungan alsintan bagi petani. Ketersediaan traktor, mesin pompa air, alat panen, dan sarana produksi lainnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas pertanian.
“Tidak mungkin petani didorong meningkatkan produksi kalau air tidak ada dan alsintan terbatas,” ujarnya.
Karena itu, Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Muna berharap pemerintah melakukan langkah cepat untuk menghadapi kondisi darurat tersebut, antara lain melalui penanganan pasokan air untuk sawah yang terdampak kekeringan, percepatan pembangunan jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier, penyediaan pompa air, penguatan bantuan alsintan, serta penyusunan peta kebutuhan dan prioritas lahan pertanian yang membutuhkan intervensi.
“Jangan sampai kita memiliki bendungan tetapi petani tetap kekurangan air. Untuk membangun ketahanan pangan dan swasembada beras, persoalan irigasi dan alsintan di Muna harus menjadi prioritas,” pungkasnya.












