FeaturedNews

Menapaki Jejak Sejarah di Baitul Maqdis, Rombongan Jamaah Satriani Wisata Shalat dan Peringati Isra Mikraj di Masjidil Aqsha

13
×

Menapaki Jejak Sejarah di Baitul Maqdis, Rombongan Jamaah Satriani Wisata Shalat dan Peringati Isra Mikraj di Masjidil Aqsha

Share this article

Timredaksi.com, Yerusalem — Baitul Maqdis yang populer dengan nama Yerusalem merupakan salah satu kota tertua di dunia yang sarat dengan jejak sejarah peradaban manusia. Saat menyusuri lorong-lorong Kota Tua Yerusalem, setiap pengunjung seakan diajak kembali menembus ribuan tahun perjalanan waktu, sejak kota ini didirikan oleh bangsa Yebus, ditaklukkan bangsa Yehuda, dikuasai Romawi, diperluas pada masa Raja Herodes, hingga ditaklukkan Khalifah Umar bin Khattab RA.

Sejarah panjang Yerusalem berlanjut ketika kota ini sempat direbut Tentara Salib, kemudian dibebaskan kembali oleh Salahuddin al-Ayyubi, berada di bawah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah, hingga akhirnya dikuasai Inggris dan kemudian diserahkan kepada bangsa Yahudi yang mendirikan negara Israel. Hingga kini, Yerusalem masih menjadi wilayah yang diperebutkan Israel dan negara-negara Arab.

Secara geografis, Yerusalem terletak di dataran tinggi Yudea, di antara Laut Tengah dan Laut Mati. Kota yang telah berdiri sejak abad ke-4 sebelum Masehi ini tercatat dalam sejarah sebagai kota yang paling sering diperebutkan. Yerusalem telah diserang sebanyak 52 kali, dihancurkan dua kali, dan direbut kembali hingga 44 kali. Hal ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai kota suci bagi tiga agama besar, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Di kota ini berdiri berbagai situs suci ketiga agama tersebut. Bagi umat Yahudi terdapat Bait Suci Raja Sulaiman AS dan makam Nabi Daud AS. Bagi umat Nasrani terdapat Gereja Makam Kudus. Sementara bagi umat Islam terdapat Masjidil Aqsha yang berada dalam kompleks Al-Quds, yang menjadi salah satu pusat spiritual terpenting umat Muslim dunia.

Baca Juga  Dede Farhan Aulawi, Pentingnya Menjaga Kecantikan Dengan Peremajaan Kulit

Bagi umat Islam, Masjidil Aqsha merupakan tanah suci ketiga setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau bersengaja melakukan perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha” (HR. Bukhari-Muslim).

Masjid ini juga memiliki kedudukan istimewa sebagai tempat terjadinya peristiwa agung Isra Mi’raj.

Motivasi itulah yang mendorong rombongan jamaah Indonesia untuk berkunjung ke Yerusalem, melaksanakan shalat, sekaligus memperingati Isra Mi’raj di Masjidil Aqsha. Rombongan ini diberangkatkan oleh Satriani Wisata, biro perjalanan yang secara rutin setiap bulan memberangkatkan jamaah ke Masjidil Aqsha.

Travel yang sudah berdiri sejak tahun 2012 ini menjadi pioner atau pelopor jalur Aqsho. Hingga kini, sudah ribuan jamaah Indonesia ziarah ke Aqsho melalui Satriani Wisata Tour and Travel.

Selain beribadah di Masjidil Aqsha, rombongan juga melakukan ziarah ke berbagai situs bersejarah lainnya, seperti makam Nabi Daud AS di Bukit Zion, makam para nabi di Hebron yakni Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishaq AS, Nabi Yakub AS, dan Nabi Yusuf AS, makam Nabi Yunus AS di Halhul, serta makam Nabi Musa AS di Jericho.

Namun, perjalanan ke Yerusalem bukanlah hal yang mudah. Berbeda dengan perjalanan haji dan umrah ke Arab Saudi yang telah umum dilakukan umat Islam Indonesia, kunjungan ke Masjidil Aqsha masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan Yerusalem saat ini berada di bawah kekuasaan Israel, sementara Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut. Jamaah harus melalui proses perizinan dan pemeriksaan ketat, bahkan tidak sedikit yang mengalami penolakan visa.

Baca Juga  PENDIDIKAN KARAKTER MODAL AWAL TANAMKAN NILAI PANCASILA

Rombongan Satriani Wisata pun mengalami proses panjang dan penuh ketegangan dalam pengurusan visa. Keputusan izin masuk yang baru diperoleh di saat-saat terakhir sempat menimbulkan rasa cemas. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad rombongan untuk tetap berangkat hingga akhirnya mereka dapat memasuki Yerusalem dengan aman dan damai.

Bahkan, rombongan mendapat sambutan yang baik ketika berziarah ke makam Nabi Daud AS, Nabi Yakub AS, dan Nabi Yusuf AS yang berada di dalam kompleks sinagoga, rumah ibadah umat Yahudi. Hal ini menjadi pengalaman spiritual yang berharga sekaligus simbol bahwa ziarah lintas sejarah dan agama dapat berlangsung secara damai.

Dalam program perjalanan Jordan–Palestina–Israel–Mesir ini, Satriani Wisata memberangkatkan 107 jamaah, yang menjadi salah satu rombongan terbesar dari Indonesia. Rombongan dipimpin langsung oleh pioner atau perintis Aqsha, yaitu Drs. H. Edy Hamdi, SA, dan turut melaksanakan peringatan Isra Mi’raj di bumi para rasul, Baitul Maqdis.

“Perjalanan ini tidak hanya menjadi wisata religi, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga Masjidil Aqsha sebagai bagian dari warisan spiritual umat Islam,” Ujar Edy Handi, SA yang juga sebagai Ketua Umum Forum Travel Partner Indonesia (FTPI) kepada media, Minggu (18/1/2026).

Para jamaah Indonesia berharap, akan semakin banyak kaum Muslimin Indonesia yang kelak berkesempatan menginjakkan kaki dan bersujud di Masjidil Aqsha. Mereka pun memanjatkan doa agar suatu hari nanti, lebih banyak umat Islam dapat beribadah dengan tenang di Yerusalem, kota suci yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *