News

POLITIK ITU MOTHER OF EVERYTHING

POLITIK ITU MOTHER OF EVERYTHING

Oleh: Patriawati Narendra

Politik itu penting, tidak kejam dan tidak pula menderitakan. Namun, akhir akhir ini banyak fenomena politik yang menyedihkan, keserakahan, keegoisan dan kedzoliman.

Politik yang baik seharusnya memiliki tiga unsur eksistensi dasar yaitu POLITIK HARUS MENCERDASKAN RAKYAT, MENYEJAHTERAKAN RAKYAT, DAN MEMARTABATKAN RAKYAT.

Kegagalan memaknai politik yang sesungguhnya karena ketidakmampuan berpikir secara essensial, ketidakmampuan berpikir secara komprehensif dan ketidakmampuan berpikir secara normatif.

Dikatakan berhasil dalam berpikir secara essensial bila negarawan tersebut mau dan mampu melihat masalah apapun secara obyektif, mampu menentukan substansi apa yang perlu dikerjakan. Kebanyakan ketidakmampuan ini dikarenakan salah menempatkan dan memaknai aksidensi menjadi substansi dan substansi malah justru menjadi aksidensi, yang penting malah jadi tidak penting, yang tidak penting malah diutamakan.

Jika demikian, maka masalah akan terus berkepanjangan dan yang ada hanya memperpanjang masalah, sustainbility pembangunan akan low dibanding sustainbility permasalahan.

Permasalahannya sekarang adalah mengapa negarawan tersebut gagal fokus, gagal dalam menjalankan amanah, gagal dalam menyerap aspirasi rakyat, hal tersebut karena gagalnya menentukan dan melihat substansi, dasar pemikiran ontologisnya hilang, kehilangan pegangan, kehilangan nilai-nilai dasar dan luhur, karena dianggapnya sudah ketinggalan zaman, tuntunan menjadi tontonan, tontonan malah menjadi tuntunan. Suatu contoh misalnya seperti kasus OTT, terjadi suatu disorientasi dan distorsi dari makna politik yang sesungguhnya.

Disorientasi akan menyebabkan kehilangan arah, kehilangan figur, apatisme, dan kekecewaan karena karakter rakyat Indonesia pada umumnya adalah patembayan yaitu masyarakat patuh pada seorang figur, tokoh kunci pada kelompok masyarakat tersebut.

Nah jika fenomena distorsi terjadi maka akan menimbulkan benturan, gesekan, dan tidak mungkin juga akan terjadi anarkisme sosial. Oleh sebab itu perlu kiranya membangun pondasi kokoh dalam politik, yang mana politik seharusnya dapat menghilangkan keterbodohan, mengurangi pemiskinan dan melimitasi penistaan.

Tantangan kedepan bagi negarawan adalah mampu tidak berpikir secara essensial, menghilangkan pemikiran subjektif dalam melihat suatu masalah, prinsipnya simpelnya yaitu perubahan itu tdk perlu menunggu dewasa dulu baru berubah namun yang terpenting ada niatan, ada motivasi untuk berpikir secara konstruktif sehingga akan mampu berpikir secara essensial yang mana akan mudah memiliki kepekaan sosial terhadap situasi dan kondisi yang terjadi, memiliki keterampilan dalam menentukan skala prioritas, mampu memilah mana yang primer dan mana yang sekunder.

Berpikir essensial bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang benar dan siapa yang salah, akan tetapi justru dengan cara tersebut akan mendapatkan kebenaran bukan keberpihakan, kepedulian bukan keegoisan dan finallynya akan menemukan metode yang tepat untuk kebaikan bersama kemaslahatan bersama…SEKALI LAGI TIDAK ADA EGOISME PEMIKIRAN, EGOISME PANDANGAN, DAN EGOISME KEPENTINGAN…EGALITER!!

SAY NO TO ANARKI KAPITALISME!!

Salsa Sabrina

Recent Posts

Gen Z Dominasi Pertumbuhan Nasabah Tabungan Emas Pegadaian

Timredaksi.com, Jakarta – PT Pegadaian mencatat fenomena menarik dalam peta investasi nasional sepanjang tahun 2025.…

5 days ago

Perspektif Islam: Pendekatan Holistik Hadapi Tantangan Zaman Modern

Perspektif Islam: Pendekatan Holistik Hadapi Tantangan Zaman Modern Oleh : Meirsa Sawitri Hayyusari Bandung –…

1 week ago

PLT. Ketua DPD BMI DKI Jakarta Siapkan Pengajian Akhir Tahun sebagai Penegasan Arah Baru

Timredaksi.com, Jakarta — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Bintang Muda Indonesia (DPD BMI) DKI Jakarta, Ghiffari…

2 weeks ago

Libur Natal dan Tahun Baru, Kemenag Siapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik

Timredaksi.com, Jakarta - Kementerian Agama menyiapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik di berbagai daerah untuk melayani…

3 weeks ago

Capt laut Suprihati : Ibu yang Tangguh momentum Hari Ibu 2025

Timredaksi.com, Jakarta - Momentum Hari Ibu tanggal 22 Desember 2025 menjadi momen spesial bagi Capt…

3 weeks ago

Bus PO Cahaya Trans Kecelakaan di Tol Krapyak, Uji KIR Diduga Kedaluwarsa Sejak 2020

Timredaksi.com, Jakarta – Bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV yang mengalami kecelakaan…

3 weeks ago