News

Menciptakan Entrepreneur Melalui Pendidikan Vokasi

Menciptakan Entrepreneur Melalui Pendidikan Vokasi

Oleh: Nur Amalia Dini Priatmi (Mahasiswa S2 Ilmu Politik UI)

Pendidikan sangat penting bukan saja untuk mencari pekerjaan setelah lulus, namun yang lebih penting menurut hemat penulis adalah penguatan kapasitas skill/psikomotorik. Pendidikan yang terjadi melalui diskursus yang setara merupakan bagian penting dari cita-cita kemerdekaan, yakni memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Keberhasilan pendidikan yang deliberatif sangat tergantung kepada kapasitas ekosistem pendidikan kita dalam proses deliberatif tersebut. Ekosistem yang dimaksud adalah mulai dari tenaga pengajar, manajamen sekolah, kurikulum, infrastruktur terutama labolatorium dan lain-lain.

Pembelajaran secara deliberasi di ruang kelas menjadi ruang latih. Sebenarnya tujuan pendidikan bersifat ganda disatu sisi membentuk dan mengembangkan individu dengan pengetahuan, kemampuan, dan karakter untuk menjalani kehidupan yang baik, sisi yang lain membentuk dan mengembangkan masyarakat untuk lebih baik. Dalam konteks demokrasi, pendidikan penting untuk membangun kesadaran setiap orang bahwa mereka perlu mencapai kedewasaan dengan berdasarkan penghargaan terhadap orang lain, sehingga menumbuhkan kesederajatan.

Pendidikan vokasi memiliki peran penting untuk kemajuan suatu bangsa. Apabila Indonesia ingin menjadi negara maju, maka salah satu faktor penentunya adalah pendidikan vokasinya harus modern dan berdaya saing. Coba lihat Jepang, Korea Selatan atau Jerman berhasil menjadi negara maju karena sejak awal pemerintah mereka menyadari kontribusi besar yang bisa diberikan pada bangsa dan negaranya melalui pendidikan vokasi.

Diera revolusi industri 4.0 dan disrupsi inovasi menjadi sangat penting. Hanya yang mampu berdaptasi yang bisa bertahan. Dalam konteks pendidikan vokasi, inovasi kurikulum, tools (fasilitas), dan teknik pengajaran menjadi penentu keberhasilan pendidikan vokasi. Tentu juga dibutuhkan tenaga pengajar yang kompeten dan manajemen sekolah dengan prinsip-prinsip deliberasi.

Tak kalah pentingnya SMK harus membuat kurikulum magang dan merancang riset (terapan) bersama untuk memahami kebutuhan pasar. Jadi, ketika sudah menjadi produk, ada konsumen yang menunggu. Sementara di perguruan tinggi penyelenggara pendidikan vokasi (PTPPV) harus merubah paradigmanya tidak sekedar menjadi pencetak lulusan untuk bekerja

di industri namun harus juga menjadi lembaga yang dapat menjawab persoalan dan tantangan rill di masyarakat.

Peluang Pendidikan Vokasi Menciptakan Entrepreneur

Selama ini kewirausahaan telah menjadi tipikal dari kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi/politeknik bahkan sudah ada ditingkat SMK/SMA di Indonesia. Namun, sampai saat ini jumlah entrepreneur di Indonesia masih 3,47% dari total jumlah penduduk dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura yang sudah 8,76%, Malaysia 4,74%, dan Thailand 4,26%. Jadi mata kuliah kewirausahaan dan pusat-pusat inkubasi bisnis yang telah ada harusnya berkontribusi pada penambahan entrepreneur. Disinilah sangat diperlukan transformasi untuk menciptakan minimal 4 juta pengusaha baru, sebagai syarat Indonesia menjadi kekuatan PDB terbesar kelima di dunia.

Sekarang bagaimana penyelenggara sekolah vokasi sejak awal mendesain untuk mengarahkan peserta didik memiliki opportunity based entrepreneur. Bahwa nanti setelah lulus bisa menjadi entrepreneur sukses atau bukan, adalah hal lain yang terpenting sudah ada upaya. Oleh karena fakta bisnis startup di dunia 90% gagal, sedangkan 75% startup yang dimodali oleh venture capital juga gagal. Kurang dari 50% startup yang bisa sampai ditahun kelima bahkan hanya sepertiga dari startup tersebut yang sampai tahun ke-10. Paling menyedihkan kurang dari 40% yang actually memiliki keuntungan. Selebihnya hanya bakar uang, tidak sampai selesai. Penyebap utama kegagalan (82%) disebabkan oleh pengaturan cash flow.

Salsa Sabrina

Recent Posts

Gen Z Dominasi Pertumbuhan Nasabah Tabungan Emas Pegadaian

Timredaksi.com, Jakarta – PT Pegadaian mencatat fenomena menarik dalam peta investasi nasional sepanjang tahun 2025.…

5 days ago

Perspektif Islam: Pendekatan Holistik Hadapi Tantangan Zaman Modern

Perspektif Islam: Pendekatan Holistik Hadapi Tantangan Zaman Modern Oleh : Meirsa Sawitri Hayyusari Bandung –…

1 week ago

PLT. Ketua DPD BMI DKI Jakarta Siapkan Pengajian Akhir Tahun sebagai Penegasan Arah Baru

Timredaksi.com, Jakarta — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Bintang Muda Indonesia (DPD BMI) DKI Jakarta, Ghiffari…

2 weeks ago

Libur Natal dan Tahun Baru, Kemenag Siapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik

Timredaksi.com, Jakarta - Kementerian Agama menyiapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik di berbagai daerah untuk melayani…

3 weeks ago

Capt laut Suprihati : Ibu yang Tangguh momentum Hari Ibu 2025

Timredaksi.com, Jakarta - Momentum Hari Ibu tanggal 22 Desember 2025 menjadi momen spesial bagi Capt…

3 weeks ago

Bus PO Cahaya Trans Kecelakaan di Tol Krapyak, Uji KIR Diduga Kedaluwarsa Sejak 2020

Timredaksi.com, Jakarta – Bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV yang mengalami kecelakaan…

3 weeks ago