Luka, Kekuasaan, dan Warisan Khamenei Dalam Membaca Dunia Hari Ini
Oleh : Farkhan Evendi (Ketum Bintang Muda Indonesia)
Untuk memahami betapa tangguhnya Iran dalam merespon geopolitik saat ini, saya kira kita tidak bisa hanya melihat negaranya, tetapi harus melihat sosok yang paling lama dan berpengaruh dalam memegang kendali di dalamnya, yaitu Ali Khamenei. Dirinya bukanlah seorang pemimpin yang lahir dari kenyamanan demokrasi liberal atau tradisi politik yang stabil. Sejak muda, ia terlibat dalam berbagai gerakan oposisi terhadap pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi dan beberapa kali merasakan dinginnya penjara serta tekanan aparat keamanan.
Pengalaman tersebut bukan sekadar catatan biografi belaka, namun pengalaman inilah yang akan membentuk cara pandang Ali Khamenei tentang dunia. Dalam pikirannya, politik bukan saja arena berkompromi dan saling menerima. Politik baginya sudah menjadi arena pertarungan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang termasuk dirinya sendiri.
Khamenei tumbuh di masa Iran masih menjadi sekutu Barat, sementara oposisi dalam negeri dibungkam dan ditekan sangat keras. Ia menyaksikan bagaimana kekuasaan dapat digunakan untuk membungkam kritik dan bagaimana dukungan internasional dapat menopang rezim yang dianggap represif. Dari fenomena ini, dirinya membuat satu kesimpulan sederhana, bahwa negara yang lemah akan mudah ditekan oleh pihak luar. Maka, sejak awal, kepercayaan terhadap janji-janji diplomatik nan busuk tidak pernah menjadi fondasi utama cara berpikirnya. Yang lebih ia percayai adalah bagaimana negara memiliki kemampuan bertahan dan menjaga kedaulatan dengan kekuatannya sendiri.
Pengalaman pribadi seorang Ali Khamenei mencapai puncaknya pada 27 Juni 1981 ketika ia menjadi korban ledakan bom saat sedang berceramah. Serangan yang dikaitkan dengan kelompok oposisi seperti Mujahideen-e Khalq membuat tangan kanannya lumpuh permanen dan nyaris merenggut nyawanya. Bagi saya, peristiwa itu bukan hanya sebuah tragedi yang melukai fisiknya, tetapi juga titik balik yang menguatkan dan mendobrak mentalnya. Sebagai seorang pemimpin yang pernah berada di ambang kematian tentu akan memandang ancaman dengan cara yang berbeda dibanding mereka yang hanya mengenalnya lewat laporan intelijen. Dari pengalaman itu, kewaspadaan terhadap sesuatu di sekitarnya telah menjadi naluri hidupnya.
Peristiwa inilah yang menurut saya menjelaskan mengapa Khamenei sulit dipengaruhi oleh berbagai tekanan ekonomi atau tawaran kompromistis yang besar sekalipun. Bagi banyak politisi, sanksi dan insentif adalah alat untuk bernegosiasi. Namun bagi Khamenei, tekanan eksternal mudah dibaca sebagai kelanjutan pola lama untuk melanggengkan praktik intervensi dan ancaman atas negaranya. Untuk memastikan Iran tidak kembali berada dalam posisi yang rentan seperti di masa Pahlevi, Ali Khamenei menguatkan satu institusi pertahanan. Institusi tersebut bernama Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang memiliki fungsi sebagai pilar utama pertahanan negara. Logika yang digunakan oleh Khamenei dalam mempertahankan negara cukup sederhana. Menurutnya, menggunakan strategi bertahan sambil mengirimkan beberapa intel lebih baik daripada memberikan serangan langsung. Dengan memberikan tekanan psikologis, pihak lawan akan mengeluarkan banyak uang untuk mengantisipasi menyusupnya para intel ini ke markas mereka. Inilah strategi yang brilian dari seorang Ulama sekaligus pejuang yang lahir dari universitas penjara dan jalanan.
Karena itu, strategi yang dipilih Khamenei sebenarnya bisa dipahami sebagai pilihan yang sejalan dengan apa yang ia alami selama hidupnya. Dirinya yang belajar sejak muda meyakini bahwa negara yang lemah akan mudah sekali ditekan, dan pemimpin yang terlalu percaya pada janji dari pihak asing bisa berakhir dijatuhkan. Maka, ketika Khamenei memilih untuk memperkuat pertahanan negara, menolak tekanan dari pihak luar yang dianggap merugikan negaranya, dan membangun kekuatan dari dalam negerinya sendiri, itu adalah strategi yang paling rasional. Baginya, bertahan dan menjaga kemandirian negeranya jauh lebih penting daripada mendapatkan keuntungan sesaat lewat sikap kompromi yang sangat berisiko bagi kedaulatan negaranya.
Maka, hanya ada satu kalimat yang bisa saya ucapkan, Selamat jalan Ayatollah. Semoga hadirmu menjadi inspirasi dan teladan di negeriku. Bismillah, Surga akan selalu menjadi tempat terbaikmu, lahul fatehah.
Timredaksi.com, Surabaya -- Indonesia hingga kini dinilai belum memiliki regulasi yang komprehensif yang secara khusus…
Timredaksi.com, Jakarta -- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) di…
Timredaksi.com, Jakarta –– Penanganan kasus dugaan pelanggaran UU ITE yang melibatkan perselisihan antara Evi dan…
Timredaksi.com, Jakarta — Unit Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor (UP PKB) Kedaung Kali Angke melaksanakan kegiatan…
Timredaksi.com, Jakarta — Tokoh muda sekaligus Sekretaris DPD Bintang Muda Indonesia (BMI) DKI Jakarta, Ghiffari…
Timredaksi.com, Jakarta -- FORSIMEMA-RI meluncurkan Kaos resmi ke Anggota sebagai atribut keanggotaan untuk bertugas di…