News

GP Ansor: Indonesia Sebagai Mayoritas Muslim, Harusnya Jokowi Bersikap Pada Pernyataan Macron

Jakarta – Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Luqman Hakim meminta Presiden Joko Widodo menyatakan sikap terhadap pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam dan Nabi Muhammad.

“Sebagai Presiden negara muslim terbesar, Pak @jokowi perlu nyatakan sikap terhadap Macron, mewakili umat Islam Indonesia yang tidak terima agamanya dihina,” kata Luqman dalam akun Twitter resminya @LuqmanbeeNKRI, Senin (26/10).

Jika Presiden Jokowi tak bersikap atas pernyataan Macron tersebut, Luqman mengaku khawatir persepsi publik yang menilai Jokowi butuh umat Islam saat Pilpres semata menjadi terbukti sahih.

Luqman menyatakan Macron kerap menghina Islam selama sebulan belakangan ini. Ia mencontohkan pernyataan Macron yang dianggap menyinggung umat muslim adalah kalimat, “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia”.

“Sudah banyak negara yang nuntut Macron minta maaf pada umat Islam. Sampai saat ini, saya belum dengar/baca pernyataan Pak @jokowi sebagai Presiden negeri muslim terbesar soal ini,” kata Luqman.

Gelombang penolakan terhadap pernyataan Macron itu sudah bergema di kawasan Arab dan Timur Tengah. Bahkan, negara-negara seperti Kuwait dan Qatar telah memboikot produk-produk Prancis di toko-toko.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyindir Macron atas kebijakannya terhadap kelompok muslim di Prancis. Ia mengatakan bahwa Macron perlu mengecek kesehatan mental.

Kontroversi pernyataan Macron itu dimulai sejak awal Oktober. Saat itu Macron menyampaikan pernyataan tentang ancaman kelompok radikal Muslim yang ingin mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekulerisme di Prancis.

Setelah pernyataan itu, meletus tragedi seorang guru sejarah di Prancis bernama Samuel Paty (47), dipenggal di daerah Eragny oleh seorang pemuda pendatang dari Chechnya, Abdoullakh Abouyezidovitch (18) pada 16 Oktober.

Pemicunya diduga Paty sempat membahas tentang kartun Nabi Muhammad S.A.W., di dalam kelas. Di awal, dia sudah mengizinkan sejumlah pelajar Muslim untuk keluar kelas jika tidak sepakat dengan materi yang dia bahas.

Setelah insiden itu, Macron kembali melontarkan pernyataan kontroversi bahwa pelaku adalah seorang radikal Muslim. Dia menyebut Paty sebagai martir karena mengajarkan kebebasan berpendapat.

Hamizan

Recent Posts

Menhut Raja Juli: Penindakan Perusahaan Terlibat Karhutla Tak akan Berhenti

Timredaksi.com, Kalimantan - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkap akan menindak tegas perusahaan yang terlibat…

11 hours ago

BPK Apresiasi Langkah Pemerintah Daerah dalam Memperbaiki Tata Kelola Keuangan Daerah

Timredaksi.com, Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyerahkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun…

3 days ago

Kemnaker Uji Coba Pelatihan Terhubung Industri untuk Tekan Kesenjangan Kompetensi

Timredaksi.com, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tengah menguji coba skema pelatihan hibrid yang menghubungkan pembelajaran…

4 days ago

Neng Eem Ajak Masyarakat Cianjur Perkuat Wawasan Kebangsaan Lewat Empat Pilar MPR RI

CIANJUR — Ketua Fraksi PKB MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz kembali melaksanakan kegiatan…

6 days ago

GEMPA BUKAN UKURAN DOSA SEBUAH DAERAH

GEMPA BUKAN UKURAN DOSA SEBUAH DAERAH Dr. DARYONO, anggota IABI Ketika suatu daerah dilanda gempa,…

1 week ago

Survei LKPI: Gerindra Pimpin Elektabilitas, PSI 4,3 Persen

Timredaksi.com, Jakarta - Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) memotret dinamika politik menjelang Pemilu 2029, termasuk…

1 week ago