News

BMI: Yusril Sedang Mabuk Kesombongan

Timredaksi.com, Jakarta – Yusril Ihza Mahendra menjadi kuasa hukum Partai Demokrat Versi KLB Deli Serdang kubu Moeldoko dan mendampingi empat kader yang menggugat AD/ART Partai Demokrat ke Mahkamah Agung. Yusril mengaku gugatannya pada AD/ART Partai Demokrat semata-mata demi “demokrasi yang sehat”.

Sikap Yusril sontak mendapatkan reaksi keras dari kader Demokrat serta dari organisasi sayap Partai Demokrat Bintang Muda Indonesia (BMI).

Ketua Umum DPN BMI Farkhan Evendi menanyakan sejak kapan dan darimana ide menyehatkan demokrasi itu hinggap di kepala Yusril. Karena Yusril tak peduli pada ide “demokrasi yang sehat” pada saat ia berkepentingan mendapat rekomendasi Partai Demokrat bagi anaknya.

Yusril berterimakasih pada Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat hasil Kongres 2020, yang memberi anaknya rekomendasi untuk bertarung dalam pilkada.

“Ide itu baru datang padanya belakangan, yakni setelah kubu KLB abal abal di Deli Serdang memberinya pekerjaan untuk membatalkan AD/ART Partai Demokrat,” ucap Farkhan, Selasa (28/9/2021).

Menurut Farkhan, seharusnya Yusril memilih sikap etis, menjauhi kemungkinan conflict of interest, dengan menolak permintaan kubu para begal itu. Setidaknya, Yusril bisa memajukan advokat lain demi konsistensinya sendiri.

“Yusril justru menerima pekerjaan dari Kubu Moeldoko dengan sangat percaya diri, malah menganggap dirinya begawan yang sedang memberi pencerahan berdemokrasi. Ia mengejek kader Demokrat sebagai “dewa mabuk”. Tapi siapakah di sini yang sebenarnya mabuk ketenaran dan mabuk kesombongan?” ucap Farkhan.

Bagi Farkhan, Yusril bukan cuma profesor hukum tata negara. Ia juga politisi karatan. Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Menteri pada tiga pemerintahan. Tapi kenapa tiba-tiba saja ia tak bisa melihat relasi kuasa di balik peristiwa politik yang sedang menghajar Demokrat.

“Kenapa ia seolah buta, bahwa apa yang dialami Demokrat berbeda, karena pada kasus partai lain tak ada agresi terang-terangan dari Kepala Staf Kepresidenan?,” kata Farkhan.

Farkhan pun menyayangkan sikap Profesor Tata Negara itu, karena dengan nama yang disandangkannya tersebut seketika terkoyak dengan sikap yang dinilai menjual pengetahuannya pada para begal partai.

Hamizan

Recent Posts

PN Jakarta Pusat Kabulkan Sebagian Gugatan Status Perkawinan, Nyatakan Penggugat sebagai Istri Sah

Timredaksi.com, Jakarta — Pengadilan Negeri Jakarta Pusat resmi menjatuhkan putusan dalam perkara perdata terkait status…

3 days ago

Dukung Asta Cita Presiden Prabowo sebagai Prioritas Nasional, Polri Serahkan 378 Unit Perumahan bagi PNPP dan Masyarakat di Sultra

Timredaksi.com, (Kolaka, Sulawesi Tenggara) — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan…

6 days ago

Fadar Tour Naik Kelas, Halal Bihalal Alumni Umrah Buka Akses Kerja Sama Internasional

Timredaksi.com, Jakarta — Fadar Dian Karomah Tour and Travel (Fadar Tour) kembali menegaskan posisinya sebagai…

1 week ago

Puluhan Tokoh Sepakat Lanjutkan Gagasan Try Sutrisno, Kembali ke UUD 1945 dan Haluan Negara

Harmoninews.com, Jakarta — Puluhan tokoh, aktivis, akademisi, dan advokat berkumpul di sebuah restoran di kawasan…

2 weeks ago

BP BUMN Perkuat AirNav Indonesia untuk Keselamatan Penerbangan Nasional

Timredaksi.com, Jakarta — Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, didampingi Deputi Bidang Fasilitasi…

3 weeks ago

UP PKB Kedaung Angke resmi terapkan sistem Full Cycle Kemenhub, tingkatkan transparansi, efisiensi, dan keamanan uji kendaraan bermotor di Jakarta

Timredaksi.com, Jakarta – Transformasi digital di sektor transportasi terus bergulir. Unit Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor…

3 weeks ago