News

MASA KEJAYAAN DAN KESOMBONGAN HASTO PDIP

MASA KEJAYAAN DAN KESOMBONGAN HASTO PDIP

Oleh: Ketum DPN BMI Farkhan Evendi

Sikap Hasto Kristiyanto yang ditunjukkan ke publik kerap mengundang kontroversi, bahkan ia sering melontarkan statement bernada tinggi serta merendahkan pihak lain, termasuk lawan politiknya.

Sekjen PDIP itu juga kerap menyerang lawan, lewat media sosial atau bahkan di acara publik melalui tutur kata dan statement yang menyudutkan lawan. Padahal, ia sendiri juga patut dikuliti terkait sepak terjang soal politiknya hingga gagal melenggang ke Senayan dan kini secara mengejutkan tampil sebagai Sekjen PDIP.

Terlepas dari sepak terjang politik Hasto untuk mencapai hasrat politiknya, yang tak kalah menarik adalah sikap Hasto akhir-akhir ini menjabat di Sekjen PDIP yang kerap memicu terjadinya api kemarahan, menimbulkan aksi perlawanan dan perang urat saraf di media sosial.

Kita patut bertanya, kenapa Hasto memiki sikap seperti itu?, Tujuan Hasto dengan melakukan statement perlawanan dengan nada tinggi untuk apa? serta pertanyaan yang lebih tendisius lain yang ditunjukkan kepada Hasto, misal, Apakah Hasto hanya menjilat atasan untuk tujuan ambisi politik?.

Mungkin, menurut hemat saya, penyebab Hasto bertindak adigang adigung adalah karena kemenangan dua kali PDIP di kancah politik nasional dengan mengusung Jokowi sebagai Presiden. Meskipun hal ini sudah dikuatkan dengan bukti kemenangan yang dialami PDIP Namun ini bukan berarti Hasto yang paling berjasa dalam kemenangan PDIP di kancah politik nasional. Masih banyak tokoh lain yang justru biasa saja dalam mengambil sikap, tidak seperti Hasto.

Hal lain yang membuat Hasto mengeluarkan statement bernada tinggi dan sering merendahkan pihak lain adalah kepanikan kubu PDIP yang tengah diterjang sejumlah kasus besar yang menyeret sejumlah pimpinan elit. Misalnya kasus Bansos yang melibatkan petinggi PDIP Juliari Peter Batubara yang divonis 12 tahun penjara, serta kasus Harun Masiku yang hingga kini menjadi DPO pihak kepolisian namun belum juga ketemu dan diadili. Bahkan, pihak PDIP terkesan pasang dada dimana-mana untuk membela mereka.

Ketiga adalah mereka merasa di negeri ini mereka dilindungi aparat penegak hukum walau berkali kali diseret namanya dalam kasus dugaan korupsi. Ini dapat dikatapak memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan tertentu, baik kepentingan pribadi, kelompok atau dalam hal ini adalah kepentingan partai politik.

Berdasarkan pada tokoh pewayangan yang masyhur sejak masa Kesultanan atau abad ke-18, karakteristik seperti ini dapat digambarkan dalam tokoh pewayangan dengan karakter sengkuni atau aktor lainnya yang mempunyai peringai tak baik, penuh tipu muslihat, sombong, petantang petenteng dan adigang adigung.

Citra inilah yang kini sudah melekat di tubuh Hasto serta sejumlah elit politik PDIP, sehingga sifat arogan PDIP terkesan arogan sejak berkuasa tahun 1999 lalu tak bisa dibuang dari benak pikiran masyarakat. Akhirnya, Ini akan membawa kepada citra buruk PDIP mendatang, padahal masyarakat akan menilai secara terbuka persoalan politik di masa kini dan yang akan datang.

Sikap arogan dan sombong tak bisa dihentikan. Mereka selalu merasa paling pro rakyat, membela kaum cilik dan lemah, namun berbeda dari kenyataannya.

Sikap merasa paling benar, paling hebat, dan paling berkuasa memang bukan karakter pancasila yang mengedepankan kemanusiaan dan permusyawaratan.

Dengan sikap yang didasarkan pada hal di atas, maka sudah waktunya kita memberhentikan mereka dari panggung demokrasi menuju ghaibnya suara mereka di pemilu mendatang dengan kerja keras, yakinkan bahwa rakyat akan melawan oligharki dan menuju politik yang bermuara pada kesejahteraan rakyat.

Berbeda dengan Demokrat yang tetap rendah hati meski dua kali menang dalam pemilu berturut-turut. Tak berlebihan jika saya katakan bahwa Demokrat selalu rendah hati, bersikap politik sopan dan santun tanpa rasa sombong dan adigang adigung.

Kini, masyarakat akan menilai dengan sendirinya, bagaimana melihat peta politik di tanah air. Apalagi rezim sudah berkuasa selama hampir dua periode. Akankah rakyat puas dengan kegagalan saat ini, ataukah akah memilih Move On untuk kebaikan dan kesejahteraan masa depannya.

Hamizan

Recent Posts

Dinilai Berhasil Jaga Kamtibmas, Warga Pademangan Berharap Kapolsek Tidak Dimutasi

Timredaksi.com, Jakarta - Sejumlah warga bersama pengurus Forum RT/RW di wilayah Pademangan menyampaikan aspirasi penolakan…

7 hours ago

‎Pegadaian Dukung Penerbitan Fatwa Kegiatan Usaha Bulion oleh DSN-MUI

Timredaksi.com, Jakarta – PT Pegadaian menjadi saksi hadirnya Fatwa No. 166 tentang Kegiatan Usaha Bulion…

1 week ago

Sah ! Putusan Kasasi MA 2014 La Ode Muh Djafar SH Dinobatkan sebagai Sultan Buton ke 39

Timredaksi.com, Jakarta - Penobatan La Ode Muhammad Djafar, S.H. sebagai Sultan Buton ke-39 memang merupakan…

1 week ago

Sederhana, Penuh Makna dan Pesan Hangat Ditengah Perayaan HUT Ke-6 BMI Demokrat

Timredaksi.com, Jakarta-Bintang Muda Indonesia (BMI), organisasi sayap partai Demokrat yang berfokus pada pengembangan kader muda,…

1 week ago

Kontroversi Waria Menjadi Ustadzah dan Pernikahan Sesama Jenis, Tokoh Pesantren Tegaskan Hukum dalam Islam

Timredaksi.com, Jakarta — Fenomena individu transgender atau waria yang tampil di ruang publik sebagai ustadzah…

1 week ago

Lantik DPD TMI se-NTT, Don Muzakir: TMI Harus Jadi Mata & Telinga Presiden

Timredaksi.com, Labuan Bajo – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Tani Merdeka Indonesia (DPN TMI), Don…

2 weeks ago