News

GEMPA BUKAN UKURAN DOSA SEBUAH DAERAH

GEMPA BUKAN UKURAN DOSA SEBUAH DAERAH

Dr. DARYONO, anggota IABI

Ketika suatu daerah dilanda gempa, kita perlu berhati-hati mengatakan bahwa bencana itu terjadi karena masyarakatnya bnyk berbuat dosa, bermaksiat, atau menyekutukan Tuhan. Pernyataan seperti itu bukan hanya sulit dibuktikan, tetapi juga dapat melukai mereka yg sedang menjadi korban.

Secara ilmu kebumian, gempa terjadi karena proses geologi. Ada daerah yg berada dekat zona subduksi, sesar aktif, atau sumber gempa lainnya. Tegangan di dalam kerak bumi terakumulasi akibat pergerakan lempeng, kemudian dilepaskan ketika batuan mengalami patahan atau pergeseran. Energi yg dilepaskan merambat sebagai gelombang seismik dan kita merasakannya sebagai gempa.

Karena itu, daerah yg sering mengalami gempa bukan berarti penduduknya lebih berdosa daripada masyarakat di daerah yg jarang gempa. Mereka tinggal di wilayah dgn kondisi tektonik yg memang lebih aktif dekat sumber gempa. Gempa juga tidak memilih korbannya berdasarkan suku, agama, tingkat kesalehan, ataupun status sosial.

Keimanan dan ilmu pengetahuan tidak harus dipertentangkan. Kita boleh memandang peristiwa alam sebagai pengingat tentang kebesaran Tuhan dan keterbatasan manusia. Namun, untuk memahami bagaimana gempa terjadi, mengapa suatu wilayah lebih rawan, dan bagaimana mengurangi korbannya, kita memerlukan ilmu pengetahuan.

Justru pengetahuan tentang alam dapat menjadi jalan utk menjaga kehidupan. Jika kita mengetahui adanya sesar aktif, kita membangun rumah yg lebih tahan gempa. Jika tinggal di kawasan rawan tsunami, kita menyiapkan jalur evakuasi. Jika memahami risikonya, kita mendidik masyarakat agar siap dan tidak panik.

Maka, ketika gempa terjadi, pertanyaan yg lebih bermanfaat bukanlah “dosa siapa yg menyebabkan bencana ini?”, melainkan “apa yg dapat kita pelajari, siapa yg harus kita bantu, dan apa yang harus kita perbaiki agar korban tidak kembali berulang?”

Bencana seharusnya menumbuhkan empati, bukan penghakiman; meningkatkan kesiapsiagaan, bukan prasangka. Iman mengajarkan kepedulian, sementara ilmu membantu kita melakukan ikhtiar utk menyelamatkan kehidupan.***

Salsa Sabrina

Recent Posts

Survei LKPI: Gerindra Pimpin Elektabilitas, PSI 4,3 Persen

Timredaksi.com, Jakarta - Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) memotret dinamika politik menjelang Pemilu 2029, termasuk…

6 hours ago

Danantara Dorong Pertagas Perkuat Jargas Nasional, Tekan Impor LPG

Timredaksi.com, Jakarta — Danantara Indonesia dan BP BUMN mendorong PT Pertamina Gas (Pertagas) mengambil peran…

6 days ago

HIPKA Cianjur Targetkan Cetak 100 Pengusaha Muda

CIANJUR - Himpunan Pengusaha KAHMI Kabupaten Cianjur memanfaatkan momentum peringatan hari jadi ke-16 untuk memperkuat…

6 days ago

Baterai Mobil Listrik Tua Rusak Berisiko Bikin Biaya Perbaikan Membengkak

  JAKARTA - Kalangan industri otomotif global tengah menyoroti mahalnya biaya penggantian baterai pada mobil…

1 week ago

Mas Ridwan, Perantau Trowulan yang Membangun Hidup Baru dari Nol di Palm Springs

Timredaksi.com, Mojokerto – Mas Ridwan, perantau asal Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, yang kini menetap di…

1 week ago

Lima Pejabat Lapas Cibinong Dinonaktifkan Buntut Temuan Fasilitas Mewah

Timredaksi.com, Jakarta – Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) menonaktifkan lima pejabat struktural Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)…

1 week ago