Demokrat: Hati-Hati dengan Fadjroel, Ngabalin, Apalagi Ruhut

0

Jakarta, Timredaksi.com – Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution, mengingatkan masyarakat agar hati-hati kepada tiga orang yang seolah-olah mengatasnamakan dari Istana Kepresidenan. Sebab, Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko sudah menegaskan cuma tiga orang pejabat yang bisa mengatasnamakan Istana.

Ketiga orang pejabat yang bisa mengatasnamakan Istana Kepresidenan adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko. Sementara, tiga orang yang harus diwaspadai menurut Syahrial yaitu Fadjroel Rachman, Ali Mochtar Ngabalin, dan Ruhut Sitompul.

Saat ini, Fadjroel Rahman diangkat sebagai Juru Bicara Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Indonesia Maju. Kemudian, Ali Mochtar Ngabalin adalah Tenaga Ahli Utama Kedeputian Kantor Staf Presiden dan Ruhut Sitompul merupakan kader PDI Perjuangan.

“Hati-hati mengutip narasumber Istana. Ternyata, cuma 3 orang yang boleh mengklaim urusan istana: Moeldoko, Pramono Anung dan Pratikno. Tidak termasuk Fadjroel, Ngabalin, apalagi @ruhutsitompul. Demikian arahan #KakakPembina,” tulis Syahrial dikutip dari Twitter pada Minggu (15/11/2020).

Sementara itu, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun juga mempertanyakan tugas dari Fadjroel Rahman yang diangkat secara resmi sebagai Juru Bicara Presiden. Dengan adanya pernyataan dari Moeldoko tersebut, Refly malah menyindir apakah Fadjroel dipecat atau dibebastugaskan.

“Bagaimana dengan Fadjroel Rahman sebagai Juru Bicara Presiden? Apakah Fadjroel sudah dipecat atau dinonjobkan? Dari sini saja sebenarnya logikanya aneh, tapi saya suka dengan pernyataan Pak Moeldoko karena selama ini terjadi kekacauan komunikasi istana,” kata Refly dikutip dari Youtube.

Baca Juga  Hari Otonomi Daerah ke-27, Wapres: Tingkatkan Kolaborasi untuk Pelayanan Publik Terbaik

Sebelumnya, Kepala Staf Kepre­sidenan Moeldoko menegaskan hanya tiga orang yang pernyataannya boleh dikutip mewakili Istana, yakni dirinya, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Nga­balin dan Jubir Presiden Fadjroel Rachman, kasih komentar terkait dirinya tidak masuk daftar nama yang berhak mewakili Istana.

Ngabalin mengaku tak pernah di­larang berbicara atas nama Istana. Semua masih normal­-normal saja sampai saat ini. Apalagi, Ngabalin merasa belum pernah melakukan kesalahan.

“Se­lama ini alhamdulillah, kan tidak ada salah ngomong saya kan,” kata Nga­balin­, beberapa waktu lalu.

Jika pun, suatu waktu ia salah bi­cara, menurutnya, masih ada sumber lain dengan tingkatan yang lebih shahih di atasnya bisa melakukan kla­rifikasi yakni­ Moeldoko.­ Ia menjelaskan, KSP adalah delivery­ unit­ kerja­ presiden yang­ ke­du­dukannya sebagai mediator untuk memfasilitasi semua urusan­-urusan pemerintah dengan masyarakat yang tersumbat.

Sebagai salah satu Tenaga Ahli Utama KSP, dia bertugas menya­lurkan informasi penting dari kerja­ kerja presiden dan pemerintah.

“Sama sekali kami tidak dihalangi untuk bicara. Kalau mengambil peran itu, tidak mungkin tidak ngomong ke wartawan,” sam­bung dia.

Tapi apa pernyataannya masih boleh mewakili atas nama Istana? Menurut Ngabalin, tidak tertutup kemungkinan. Masih sama seperti sebelumnya.

“Kalau nanti, umpama ada hal-­hal penting dari presiden harus disam­paikan atas izin Kepala Staf Presiden dalam hal ini Pak Moeldoko, tidak ma­salah. Normal saja itu, seperti biasa,” jelasnya.

Baca Juga  Sah! RUU 8 Provinsi Resmi Disahkan Menjadi Undang-Undang

Anggota Komisi I DPR periode 2004­-2009 itu mengatakan, apa yang disampaikan Moeldoko adalah langkah preventif. Agar, jika ada ke­salahan komunikasi di lingkungan Ring 1 itu, masih bisa diklarifikasi.

“Bisa dibetulkan oleh Pak Praktik, Pak Pramono, dan Pak Moeldoko,” ucapnya.

Ngabalin juga membantah isu adanya evaluasi internal terkait komunikasi Istana. Yang ada, ungkapnya, sistem komunikasi baru, sedang dibangun oleh pemerintah.

“Diharapkan, kementerian, lem­baga, humas, dan juru bicara itu bisa merepresentasikan kementerian dan lembaga atas nama pemerintah dan klaster yang ada seperti di Undang­-Undang Cipta Kerja itu,” tuturnya.

Jubir Kepresidenan, Fadjroel Rach­man juga bicara soal ini. Bedanya, dia bicara di dunia maya saat menimpali cuitan wartawan senior Uni Lubis di akun @unilunis yang memajang be­rita Moeldoko soal hanya tiga orang yang berhak mewakili Istana itu.

Kepada Uni, Fadjroel mengamini pernyataan Moeldoko. Bahwa hanya tiga orang yang pernyataannya bisa mewakili Istana. Jubir, tidak.

“Betul yang disampaikan Pak Moel­doko @KSPgoid. Karena TUPOKSI saya sebagai SKP bidang komunikasi/@JubirPresidenRI hanya menyampaikan/mengomunikasikan/menjabarkan arahan/pidato/kebijakan Presiden @jokowi kepada publik (audience),” cuit Fadjroel.

Lalu, Fadjroel disambar warganet lain. “Kalau di Twitter apa yang mem­bedakan cuitan pribadi atau sebagai jubir presiden bang,” tanya Andre Agusta Rahman.

Fadjroel menjawab, “Kalau ada tanda FR itu pribadi. Kalau ada hes­tek #jubir itu resmi. Tapi, untuk akun official, silakan ikuti @JubirPresi­denRI,” begitu jawaban Fadjroel sambil menambahkan kode FR. (Intan/S:Viva.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here